Memahami Nidha’ Tarawih dan Tata Cara Pelaksanaannya
Pengantar: Keistimewaan Ramadan dan Sholat Tarawih
Bulan Ramadan merupakan waktu yang dinantikan umat Muslim di seluruh dunia. Selain ibadah puasa, terdapat amalan sunnah yang sangat dianjurkan, yaitu Sholat Tarawih. Sholat ini menjadi ciri khas Ramadan, dilaksanakan secara berjamaah di masjid atau di rumah. Namun, sering kali muncul pertanyaan tentang "nidha’ Tarawih". Istilah ini merujuk pada sistem atau tata cara pengaturan Sholat Tarawih, mulai dari jumlah rakaat, metode pelaksanaan, hingga perbedaan pandangan ulama. Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang makna, sejarah, tata cara, dan perbedaan pendapat seputar nidha’ Tarawih.
Apa Itu Nidha’ Tarawih?
Secara bahasa, "nidha" (نِظَام) dalam bahasa Arab berarti "sistem" atau "pengaturan". Sementara Tarawih (تراويح) adalah bentuk jamak dari "tarwihah", yang bermakna "istirahat singkat". Dengan demikian, nidha’ Tarawih dapat diartikan sebagai tata cara atau sistem pelaksanaan Sholat Tarawih, mencakup:
Jumlah rakaat.
Cara pelaksanaan (berjamaah atau sendiri).
Bacaan Al-Qur'an yang dianjurkan.
Waktu dan jeda istirahat antar sesi.
Perbedaan pendapat ulama terkait praktiknya.
Sholat Tarawih sendiri merupakan ibadah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) yang dikerjakan setelah Sholat Isya’ di bulan Ramadan.
Sejarah Singkat Sholat Tarawih
Awalnya, Rasulullah SAW melaksanakan Tarawih secara berjamaah di masjid, namun beliau tidak melanjutkannya secara rutin karena khawatir dianggap wajib. Dalam hadits riwayat Aisyah RA:
"Rasulullah SAW sholat di masjid, lalu banyak orang yang mengikutinya. Keesokan harinya, beliau sholat lagi, dan jamaah semakin bertambah. Pada malam ketiga atau keempat, mereka berkumpul, tetapi Rasulullah tidak keluar. Keesokan paginya, beliau bersabda: 'Aku tahu kalian menunggu, tetapi aku tidak keluar karena khawatir sholat ini diwajibkan atas kalian.'" (HR. Bukhari-Muslim).
Pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA, Tarawih dihidupkan kembali secara berjamaah dengan satu imam untuk memudahkan masyarakat. Inilah cikal bakal nidha’ Tarawih yang terorganisir.
Tata Cara (Nidha’) Sholat Tarawih
1. Jumlah Rakaat
Pandangan Hanafiyah, Hanabilah, dan Sebagian Syafi’iyah: 20 rakaat (ditambah 3 Witr). Ini berdasarkan tradisi sahabat Nabi di masa Umar RA.
Pandangan Malikiyah dan Sebagian Syafi’iyah: 8 rakaat (ditambah Witr), merujuk hadits Aisyah RA: "Rasulullah tidak pernah sholat malam lebih dari 11 rakaat, baik di Ramadan maupun bulan lain." (HR. Bukhari).
Catatan: Perbedaan ini bersifat fleksibel. Imam Syafi’i menyatakan, "Jika masyarakat memilih 20 rakaat karena lebih ringan, itu baik. Jika memilih 8 rakaat dengan bacaan panjang, itu juga baik."
2. Pelaksanaan per 2 atau 4 Rakaat
Tarawih dikerjakan dalam setiap 2 rakaat diakhiri salam. Setiap 4 rakaat, disarankan beristirahat sejenak (tarwihah), sesuai makna kata "Tarawih".
3. Bacaan Al-Qur'an
Dianjurkan membaca surat panjang, seperti Al-Baqarah, Ali Imran, atau Al-Qadr. Di Indonesia, lazim membagi bacaan agar khatam Al-Qur’an sebulan penuh.
Tidak ada ketentuan wajib; yang penting menjaga kekhusyukan.
4. Waktu
Tarawih dilaksanakan setelah Sholat Isya’ hingga sebelum Subuh. Lebih utama di awal malam agar tidak memberatkan jamaah.
Perbedaan Pendapat Ulama dan Relevansinya
Perbedaan jumlah rakaat Tarawih adalah contoh khilafiyah furu’iyyah (perbedaan cabang) yang tidak mengganggu prinsip akidah. Umat Islam boleh memilih sesuai kemampuan dan tradisi setempat. Beberapa poin penting:
Landasan 20 Rakaat: Berdasarkan ijma’ (kesepakatan) sahabat di masa Umar RA.
Landasan 8 Rakaat: Merujuk kebiasaan Nabi SAW yang tidak membatasi rakaat namun mengutamakan kekhusyukan.
Imam Malik dalam Al-Muwatha’ menegaskan: "Tarawih adalah 11 rakaat, tetapi amalan penduduk Madinah (20 rakaat) juga sah."
Keutamaan Sholat Tarawih
Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa sholat malam di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari-Muslim).
Selain itu, Tarawih memperkuat persaudaraan, meningkatkan kebiasaan membaca Al-Qur’an, dan membentuk disiplin spiritual.
Tantangan dan Tips Menjalankan Tarawih
Kelelahan: Pilih masjid yang dekat atau lakukan di rumah jika berhalangan.
Bacaan Panjang: Bagi pemula, cukup membaca surat pendek.
Konsistensi: Utamakan kualitas, bukan kuantitas. Lebih baik 8 rakaat khusyuk daripada 20 rakaat terburu-buru.
Penutup: Menghidupkan Ramadan dengan Semangat Tarawih
Nidha’ Tarawih adalah sistem yang fleksibel, mengakomodasi keragaman umat. Yang terpenting adalah menghidupkan malam Ramadan dengan ibadah, baik dengan 8, 20, atau jumlah rakaat lainnya. Sebagaimana pesan Umar bin Khattab RA: "Sebaik-baik perkara adalah yang sedang-sedang saja (tidak memberatkan)."
Semoga artikel ini memberikan pemahaman utuh tentang tata cara Tarawih dan memotivasi kita untuk meraih keutamaan Ramadan secara optimal. Selamat menunaikan ibadah Tarawih!
0 Komentar